Featured

7/Archeology/custom

TAKTIK PERANG KERAJAAN INDONESIA ZAMAN DAHULU

by 10:08 AM
SEBELUMNYA KAMI MOHON MAAF PADA PARA PEMBACA KARENA TIDAK BISA UPDATE ARTIKEL SECARA RUTIN, SELASA 2 MEI NANTI SAYA DAN ADMIN LAINNYA AKAN MENGIKUTI UJIAN NASIONAL SERENTAK UNTUK 1 MINGGU, SEHARUSNYA CUKUP 4 HARI TAPI ENTAH MENGAPA ADA LIBUR. KARENANYA KAMI MOHON DOA DAN IZIN PARA PEMBACA AGAR DILANCARKAN UJIANNYA, TAK LUPA JUGA PUJI & SYUKUR KITA PANJATKAN KEPADA ALLAH SWT KARENANYA INDTRUTH MASIH BISA DAN AKAN SELAMANYA BERDIRI, BERJAYA, DI "DUNIA PRIBADI" NYA. SELEPAS UJIAN NASIONAL KAMI AKAN MENGADAKAN POOLING TENTANG GENRE/LABEL YANG PALING DISUKAI PARA PEMBACA. SEKIAN DARI KAMI TERIMAKASIH MOHON DOANYA KAWAN KAWAN SEMUA ☺☺ 


- 10 Macam "WYUHA" (Taktik Perang) -



Taktik perang zaman sekarang beda dari taktik perang zaman dulu. Perang zaman sekarang, karena persenjataan sudah canggih dan memusnahkan secara massal haruslah pandai-pandai menghadapi musuh. Makanya dikenal istilah "Perang Gerilya" atau "Hit and Run" (tembak lalu kabur). Pada dasarnya, perang zaman sekarang lebih banyak mengandalkan persembunyian, ya benar juga sih, siapa yang ingin "mati konyol". Perang zaman modern melibatkan trimatra, 3 dimensi, yaitu darat, laut, dan udara, serta sedikit mungkin melibatkan kontak prajurit sebagai 'man behind the gun'. Untuk menghadapi musuh tak perlu jarak dekat, karena dengan nenekan tombol persenjataan, musuh dapat dikalahkan. Peperangan zaman sekarang, seperti yang terjadi di Timur Tengah, lebih banyak dikendalikan lewat udara (pesawat tempur), lalu lewat laut (kapal perang). Setelah pertahanan musuh lemah dan hancur lebur, barulah pasukan angkatan darat dengan armada tank merangsek ke pertahanan musuh yang sudah lemah. Inilah yang kerap dilakukan pasukan Amerika Serikat bersama konco-konconya untuk melemahkan musuh. Karena kita tahu pasukan AS begitu digdaya bila melakukan serangan udara karena persenjataan sudah sedemikian canggih. Tetapi medan perang juga menentukan, ternyata lebih sulit menaklukkan musuh di medan perang yang bergunung-gunung yang dilindungi hutan-hutan lebat daripada medan perang berupa gurun pasir. Buktinya sudah jelas, Amerika Serikat "keok" melawan Vietnam di medan perang yang berbukit-bukit dan berhutan lebat, sebaliknya berjaya ketika melawan Irak yang medannya gurun pasir.

Peperangan zaman dulu dilakukan secara FRONTAL di medan terbuka, untuk memenangkan perang diperlukan taktik, seperti yang termaktub dalam kakawin Bharata Yudha, digubah oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh di masa pemerintahan Raja Jayabhaya dari kerajaan Pangjalu (Kadiri) tahun 1157 M. Mungkin, taktik perang ini pernah juga dipraktekkan Jayabhaya dalam menghadapi musuh-musuhnya. Dalam kakawin tersebut dikenal 10 macam "wyuha" (taktik perang), yaitu: 



Wukir Sagara Wyuha(Sebelah kanan), Wajratiksna wyuha(Sebelah kiri) 
Contoh : Resi Bisma Vs Resi Seta


Kagapati Garuda Wyuha
Contoh : Arjuna Wijaya vs Raden Bambang Sumantri



 Gajamatta wyuha(Atas)
Kananna Wyuha(Bawah)
Contoh : Prabu Drupada vs Resi Durna


 Cakra wyuha(Sebelah kiri), Sucimukha wyuha dan padma wyuha (Sebelah kanan)







 Makara wyuha

Contoh : Abimanyu vs Resi Durna


 Arddhacandra wyuha

Arjuna Vs Karna



Sekian dari kami terimakasih, kalo waktunya cukup bakalan saya tambahkan keterangan kumplit untuk setiap Wyuha, jadi jangan lupa Stay terus di Indtruth ya ^^


Jika berperang Sendirian tanpa Kawan Seyogyanya harus memiliki Kemampuan di atas Rata-rata agar Unggul dalam Pertempuran. Jika Memenangkan Pertempuran hendaknya beri Rasa Hormat, jangan berbuat Perbuatan Hina /Tercela -- Filosofi Sunan Kalijaga 

AGAMA ASLI LELUHUR NUSANTARA YANG TERLUPAKAN ( PART 1 )

by 5:09 AM
Ini agama LOKAL Bukan Impor...
Walaupun mungkin diantara kalian ada yang suka import..
======================================
AGAMA ASLI NUSANTARA YANG TERPINGGIRKAN
Kearifan lokal yang kehilangan tempat berpijak karena masalah administrasi negara dan tekanan agama asing. Pada hakekatnya semua terlahir tanpa nama, dan ketika keyakinan dan kepercayaan mengkristal serta menegakkan panji bernama AGAMA, maka kepentingan orang dan kelompok akan mewarnai kemurnian ajaran apapun itu. Indonesia sebagai salah satu pusat pertemuan arus budaya memberi cukup ruang bagi kesemuanya untuk hidup berdampingan menjalankan keyakinannya masing2. Dan peradaban Nusantara tidak dapat menghilangkan jejaknya begitu saja, karena semua ini lahir dari degup perikehidupan bangsa Nusantara.

Ilustrasi
Pada umumnya masyarakat Indonesia sudah tidak lagi mengetahui bahwa sebelum agama-agama yang diakui pemerintah sekarang ini, seperti : Islam, Kristen, Hindu, Budha maupun Konghucu masuk ke Nusantara, disetiap daerah telah ada agama-agama atau kepercayaan asli. Seperti Sunda Wiwitan yang dipeluk masyarakat Sunda di Kanekes, Lebak, Banten, dan banyak lagi tersebar di berbagai daerah lainnya.
Selain agama Sunda Wiwitan aliran Madrais juga dikenal sebagai agama Cigugur di Cigugur, Kuningan, Jawa Barat. Agama Buhun di Jawa Barat, Kejawen di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Parmalim sebagai agama asli Batak, agama Kaharingan di Kalimantan, kepercayaan Toonas Walian di Minahasa, Sulawesi Utara, agama Tolottang di Sulawesi Selatan, Wetu Telu di Lombok, Naurus di Pulau Seram, Provinsi Maluku dan lain-lainnya. Di dalam Negara Republik Indonesia, agama-agama asli Nusantara tersebut di degradasi sebagai ajaran animisme. penyembah berhala maupun batu atau hanya sebagai aliran kepercayaan.
Hingga kini, tak satupun agama-agama dan kepercayaan asli Nusantara yang diakui di Republik Indonesia sebagai agama dengan hak-hak untuk dicantumkan dalam KTP, Akta Kelahiran, pencatatan perkawinan di Kantor Catatan Sipil dan sebagainya. Seiring dengan berjalannya waktu dan jaman, agama asli Nusantara semakin punah dan menghilang, kalaupun memiliki penganut, biasanya berada di daerah pedalaman seperti di pedalaman Sumatera dan Irian Jaya.
Di Indonesia aliran kepercayaan yang paling banyak penganutnya adalah agama Buhun. Data yang direkam peneliti Abdul Rozak, penulis Teologi Kebatinan Sunda, menunjukkan pemeluk agama ini sekitar 100.000 orang. Jika angka ini benar, maka agama Buhun merupakan salah satu aliran kepercayaan terbesar di Indonesia. Berdasarkan data Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata, dari 245 aliran kepercayaan yang terdaftar, jumlah keseluruhan penganutnya mencapai lebih dari 400.000 orang.
SELALU DICURIGAI
Salah satu penyebab kurang populernya agama lokal ini adalah tidak lepas karena pengaturan atau kebijakan pemerintah, yaitu tidak mengakui sebagai agama resmi tetapi menggolongkannya sebagai kepercayaan semata. Kemudian situasinya menjadi semakin sulit karena masyarakat sendiri nyaris tidak memberi peluang untuk tumbuh dan berkembangnya agama lama ini bahkan tidak jarang menganggapnya sebagai bukan suatu agama atau bahkan dituduh sebagai aliran sesat.
Sebenarnya mereka jelas bukan ajaran sesat, karena keberadaan mereka sudah dijamin oleh Undang-undang. Namun Undang-undang tetaplah hanya sebatas teks dan kata-kata semata, karena kenyataan keberadaannya terpinggirkan atau bahkan lebih tepat disebut dicurigai. Aktivitas ataupun organisasi mereka dipastikan haruslah terdaftar resmi, mendapat ijin dari berbagai departemen dan instansi. Namun walaupun sudah memiliki ijin resmi, reaksi masyarakat ataupun aparat di lapangan kerap kali berbeda.
Pemerintah sendiri sejak awal hanya mengakui 5 agama dan kemudian menambah 1 agama lagi sehingga totalnya menjadi 6 agama yang dianggap "resmi". Seperti yang sudah diketahui, satu tambahan agama resmi ini lagi-lagi berasal dari luar negeri atau asing.
Dari sekian banyak agama lokal yang ada, bisa dikatakan sudah punah walaupun kenyataannya masih bisa ditemukan di suatu wilayah namun dianggap "tidak pernah ada". Buktinya "agama resmi" yang diakui dan masuk kolom KTP hanya 6 agama saja, dan tidak ada satupun yang termasuk agama lokal alias semuanya import, dengan demikian keberadaan agama lokal sudah dianggap punah.
Untuk mendapatkan legalitas resmi, beberapa agama tertentu seperti Kaharingan "terpaksa" harus bergabung dengan agama Hindu. Kemudian agama Parmalim di Batak memilih tetap bertahan dengan agama lamanya, namun untuk urusan KTP nya, terpaksa harus memilih agama lain sebagai identitasnya.
DAFTAR AGAMA DAN ALIRAN KEPERCAYAAN NUSANTARA YANG TERDAFTAR RESMI PADA INSTANSI PEMERINTAH

NAMA AGAMA ASLI NUSANTARA


01.  Agama Bali (sering disebut Hindu Bali atau Hindu Dharma)



Agama Hindu Bali (disebut pula Agama Hindu Dharma atau Agama Tirtha ["agama Air Suci"]) adalah suatu praktik agama Hindu yang umumnya diamalkan oleh mayoritas suku Bali di Indonesia. Agama Hindu Bali merupakan sinkretisme (penggabungan) kepercayaan Hindu aliranSaiwaWaisnawa, dan Brahma dengan kepercayaan asli (local genius) suku Bali.

SEJARAH
Peninggalan terkuno yang dikenal di Indonesia berkaitan dengan agama Hindu adalah arca Ganesha dan Siwa yang ditemukan di pulau Panaitan dan diperkirakan dari abad pertama setelah Masehi. Selain itu, ada juga tujuh buah yupa yang ditemukan di Kutai, Kalimantan Timur, dan diperkirakan dari sekitar tahun 400 Masehi. Di Bali, peninggalan terkuno yang dikenal adalah arca Siwa yang ditemukan di Bedulu, Gianyar, dan diperkirakan dari abad ke-8 yang coraknya mirip dengan arca Siwa yang ditemukan pada abad ke-8 di dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah.


CATURWARNA
Di Bali berlaku sistem Catur Varna (Warna), yang mana kata Caturwarna berasal dari bahasa Sanskerta yang terdiri dari kata Catur berarti empat dan kata warna yang berasal dari urat kata Wr (baca: wri) artinya memilih. Caturwarna berarti empat pilihan hidup atau empat pembagian dalam kehidupan berdasarkan atas bakat (guna) dan ketrampilan (karma) seseorang, serta kualitas kerja yang dimiliki sebagai akibat pendidikan, pengembangan bakat yang tumbuh dari dalam dirinya dan ditopang oleh ketangguhan mentalnya dalam menghadapi suatu pekerjaan. Empat golongan yang kemudian terkenal dengan istilah Caturwarna itu ialah: BrahmanaKsatriaWaisya, dan Sudra.
Warna Brahmana: Disimbulkan dengan warna putih, adalah golongan fungsional di dalam masyarakat yang setiap orangnya menitikberatkan pengabdian dalam swadharmanya di bidang kerohanian keagamaan.
Warna Ksatrya: Disimbulkan dengan warna merah adalah golongan fungsional di dalam masyarakat yang setiap orangnya menitikberatkan pengabdian dalam swadharmanya di bidang kepemimpinan, keperwiraan dan pertahanan keamanan negara.
Warna Waisya: Disimbulkan dengan warna kuning adalah golongan fungsional di dalam masyarakat yang setiap orangnya menitikberatkan pengabdiannya di bidang kesejahteraan masyarakat (perekonomian, perindustrian, dan lain- lain).
Warna Sudra: Disimbulkan dengan warna hitam adalah golongan fungsional di dalam masyarakat yang setiap orangnya menitikberatkan pengabdiannya di bidang ketenagakerjaan.
Dalam perjalanan kehidupan di masyarakat dari masa ke masa pelaksanaan sistem Caturwarna cenderung membaur mengarah kepada sistem yang tertutup yang disebut Catur Wangsa atau Turunan darah. Padahal Caturwarna menunjukkan pengertian golongan fungsional, sedangkan Catur Wangsa menunjukkan Turunan darah.



 2. Sunda Wiwitan
 Sunda Wiwitan (Kanekes, Banten)
Sunda Wiwitan adalah agama atau kepercayaan pemujaan terhadap kekuatan alam dan arwah leluhur (animisme dan dinamisme) yang dianut oleh masyarakat tradisional Sunda. Akan tetapi ada sementara pihak yang berpendapat bahwa Agama Sunda Wiwitan juga memiliki unsur monoteisme purba, yaitu di atas para dewata dan hyang dalam pantheonnya terdapat dewa tunggal tertinggi maha kuasa yang tak berwujud yang disebut Sang Hyang Kersa yang disamakan dengan Tuhan Yang Maha Esa.
Penganut ajaran ini dapat ditemukan di beberapa desa di provinsi Banten dan Jawa Barat, seperti di Kanekes, Lebak, Banten; Ciptagelar Kasepuhan Banten Kidul, Cisolok, Sukabumi; Kampung NagaCirebon; dan Cigugur, Kuningan. Menurut penganutnya, Sunda Wiwitan merupakan kepercayaan yang dianut sejak lama oleh orang Sunda sebelum datangnya ajaran Hindu dan Islam.
Ajaran Sunda Wiwitan terkandung dalam kitab Sanghyang siksakanda ng karesian, sebuah kitab yang berasal dari zaman kerajaan Sunda yang berisi ajaran keagamaan dan tuntunan moral, aturan dan pelajaran budi pekerti. Kitab ini disebut Kropak 630 oleh Perpustakaan Nasional Indonesia. Berdasarkan keterangan kokolot (tetua) kampung Cikeusik, orang Kanekes bukanlah penganut Hindu atau Buddha, melainkan penganut animisme, yaitu kepercayaan yang memuja arwah nenek moyang. Hanya dalam perkembangannya kepercayaan orang Kanekes ini telah dimasuki oleh unsur-unsur ajaran Hindu, dan hingga batas tertentu, ajaran Islam. Dalam Carita Parahyangan kepercayaan ini disebut sebagai ajaran "Jatisunda".

MITOLOGI DAN SISTEM KEPERCAYAAN
Kekuasaan tertinggi berada pada Sang Hyang Kersa (Yang Mahakuasa) atauNu Ngersakeun (Yang Menghendaki). Dia juga disebut sebagai Batara Tunggal (Tuhan yang Mahaesa), Batara Jagat (Penguasa Alam), dan Batara Seda Niskala (Yang Gaib). Dia bersemayam di Buana Nyungcung. Semua dewa dalam konsep Hindu (Brahma, Wishnu, Shiwa, Indra, Yama, dan lain-lain) tunduk kepada Batara Seda Niskala.
Ada tiga macam alam dalam kepercayaan Sunda Wiwitan seperti disebutkan dalam pantun mengenai mitologi orang Kanekes:
  1. Buana Nyungcung: tempat bersemayam Sang Hyang Kersa, yang letaknya paling atas
  2. Buana Panca Tengah: tempat berdiam manusia dan makhluk lainnya, letaknya di tengah
  3. Buana Larang: neraka, letaknya paling bawah
Antara Buana Nyungcung dan Buana Panca Tengah terdapat 18 lapis alam yang tersusun dari atas ke bawah. Lapisan teratas bernama Bumi Suci Alam Padang atau menurut kropak 630 bernama Alam Kahyangan atau Mandala Hyang. Lapisan alam kedua tertinggi itu merupakan alam tempat tinggal Nyi Pohaci Sanghyang Asri dan Sunan Ambu.
Sang Hyang Kersa menurunkan tujuh batara di Sasaka Pusaka Buana. Salah satu dari tujuh batara itu adalah Batara Cikal, paling tua yang dianggap sebagai leluhur orang Kanekes. Keturunan lainnya merupakan batara-batara yang memerintah di berbagai wilayah lainnya di tanah Sunda. Pengertian nurunkeun (menurunkan) batara ini bukan melahirkan tetapi mengadakan atau menciptakan.
FILOSOFI

Paham atau ajaran dari suatu agama senantiasa mengandung unsur-unsur yang tersurat dan yang tersirat. Unsur yang tersurat adalah apa yang secara jelas dinyatakan sebagai pola hidup yang harus dijalani, sedangkan yang tersirat adalah pemahaman yang komprehensif atas ajaran tersebut. Ajaran Sunda Wiwitan pada dasarnya berangkat dari dua prinsip, yaitu Cara Ciri Manusia dan Cara Ciri Bangsa.
Cara Ciri Manusia adalah unsur-unsur dasar yang ada di dalam kehidupan manusia. Ada lima unsur yang termasuk di dalamnya:
  • Welas asih: cinta kasih
  • Undak usuk: tatanan dalam kekeluargaan
  • Tata krama: tatanan perilaku
  • Budi bahasa dan budaya
  • Wiwaha yudha naradha: sifat dasar manusia yang selalu memerangi segala sesuatu sebelum melakukannya
Kalau satu saja cara ciri manusia yang lain tidak sesuai dengan hal tersebut maka manusia pasti tidak akan melakukannya.
Prinsip yang kedua adalah Cara Ciri Bangsa. Secara universal, semua manusia memang mempunyai kesamaan di dalam hal Cara Ciri Manusia. Namun, ada hal-hal tertentu yang membedakan antara manusia satu dengan yang lainnya. Dalam ajaran Sunda Wiwitan, perbedaan-perbedaan antarmanusia tersebut didasarkan pada Cara Ciri Bangsa yang terdiri dari:
  • Rupa
  • Adat
  • Bahasa
  • Aksara
  • Budaya
Kedua prinsip ini tidak secara pasti tersurat di dalam Kitab Sunda Wiwitan, yang bernama Siksa Kanda-ng karesian. Namun secara mendasar, manusia sebenarnya justru menjalani hidupnya dari apa yang tersirat. Apa yang tersurat akan selalu dapat dibaca dan dihafalkan. Hal tersebut tidak memberi jaminan bahwa manusia akan menjalani hidupnya dari apa yang tersurat itu. Justru, apa yang tersiratlah yang bisa menjadi penuntun manusia di dalam kehidupan.
Awalnya, Sunda Wiwitan tidak mengajarkan banyak tabu kepada para pemeluknya. Tabu utama yang diajarkan di dalam agama Sunda ini hanya ada dua.
  • Yang tidak disenangi orang lain dan yang membahayakan orang lain
  • Yang bisa membahayakan diri sendiri
Akan tetapi karena perkembangannya, untuk menghormati tempat suci dan keramat (Kabuyutan, yang disebut Sasaka Pusaka Buana dan Sasaka Domas) serta menaati serangkaian aturan mengenai tradisi bercocok tanam dan panen, maka ajaran Sunda Wiwitan mengenal banyak larangan dan tabu. Tabu (dalam bahasa orang Kanekes disebut "Buyut") paling banyak diamalkan oleh mereka yang tinggal di kawasan inti atau paling suci, mereka dikenal sebagai orang Baduy Dalam.

Tradisi

Dalam ajaran Sunda Wiwitan penyampaian doa dilakukan melalui nyanyian pantun dan kidung serta gerak tarian. Tradisi ini dapat dilihat dari upacara syukuran panen padi dan perayaan pergantian tahun yang berdasarkan pada penanggalan Sunda yang dikenal dengan nama Perayaan Seren Taun. Di berbagai tempat di Jawa Barat, Seren Taun selalu berlangsung meriah dan dihadiri oleh ribuan orang. Perayaan Seren Taun dapat ditemukan di beberapa desa seperti diKanekesLebakBanten; Ciptagelar Kasepuhan Banten Kidul, Cisolok, Sukabumi; Kampung Naga; dan Cigugur, Kuningan. Di Cigugur, Kuningan sendiri, satu daerah yang masih memegang teguh budaya Sunda, mereka yang ikut merayakan Seren Taun ini datang dari berbagai penjuru negeri.
Meskipun sudah terjadi inkulturasi dan banyak orang Sunda yang memeluk agama-agama di luar Sunda Wiwitan, paham dan adat yang telah diajarkan oleh agama ini masih tetap dijadikan penuntun di dalam kehidupan orang-orang Sunda. Secara budaya, orang Sunda belum meninggalkan agama Sunda ini.

03. Agama Djawa Sunda (Kuningan, Jawa Barat)

Agama Sunda adalah kepercayaan sejumlah masyarakat yang tersebar di daerah Kecamatan Cigugur, Kuningan, Jawa Barat. Agama ini juga dikenal sebagai Cara Karuhun Urang (tradisi nenek moyang), agama Sunda Wiwitanajaran Madraisatau agama CigugurAbdul Rozak, seorang peneliti kepercayaan Sunda, menyebutkan bahwa agama ini adalah bagian dariagama Buhun, yaitu kepercayaan tradisional masyarakat Sunda yang tidak hanya terbatas pada masyarakat Cigugur diKabupaten Kuningan, tetapi juga masyarakat Baduy di Kabupaten Lebak, para pemeluk "Agama Kuring" di daerah Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, dll. Jumlah pemeluknya di daerah Cigugur sekitar 3.000 orang. Bila para pemeluk di daerah-daerah lain ikut dihitung, maka jumlah pemeluk agama Buhun ini, menurut Abdul Rozak, mencapai 100.000 orang, sehingga agama Buhun termasuk salah satu kelompok yang terbesar di kalangan Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Agama Sunda atau agama Sunda Wiwitan ini dikembangkan oleh Pangeran Madrais dari Cigugur, Kuningan. Oleh pemerintah Belanda, Madrais belakangan ditangkap dan dibuang ke Ternate, dan baru kembali sekitar tahun 1920 untuk melanjutkan ajarannya.
Madrais — yang biasa juga dipanggil Kiai Madrais — adalah keturunan dari Kesultanan Gebang, sebuah kesultanan di wilayah Cirebon Timur. Ketika pemerintah Hindia Belanda menyerang kesultanan ini, Madrais diungsikan ke daerah Cigugur. Sang pangeran yang juga dikenal sebagai Pangeran Sadewa Alibasa, dibesarkan dalam tradisi Islam dan tumbuh sebagai seorang spiritualis. Ia mendirikan pesantren sebagai pusat pengajaran agama Islam, namun kemudian mengembangkan pemahaman yang digalinya dari tradisi pra-Islam masyarakat Sunda yang agraris. Ia mengajarkan pentingnya menghargai cara dan ciri kebangsaan sendiri, yaitu Sunda.

Ajaran dan ritual

Madrais menetapkan tanggal 22 Rayagung menurut kalender Sunda sebagai hari raya Seren Taun yang diperingati secara besar-besaran. Upacara ini dipusatkan di Paseban Tri Panca Tunggal, rumah peninggalan Kiai Madrais yang didirikan pada1860, dan yang kini dihuni oleh Pangeran Djatikusuma.
Dalam upacara ini, berbagai rombongan dari masyarakat datang membawa bermacam-macam hasil bumi. Padi-padian yang dibawa, kemudian ditumbuk beramai-ramai dalam lesung sambil bernyanyi (ngagondang). Upacara ini dirayakan sebagai ungkapan syukur untuk hasil bumi yang telah dikaruniakan oleh Tuhan kepada manusia. Upacara "Seren Taun" yang biasanya berlangsung hingga tiga hari dan diwarnai oleh berbagai kesenian daerah ini, pernah dilarang oleh pemerintah Orde Baru selama 17 tahun, namun kini upacara ini dihidupkan kembali. Salah satu upacara "Seren Taun" pernah dihadiri oleh Menteri Perindustrian, Andung A. Nitimiharja, mantan Presiden RI, Abdurahman Wahid, dan istri, serta sejumlah pejabat pemerintah lainnya.
Madrais juga mengajarkan penghormatan terhadap Dewi Sri (Sanghyang Sri) melalui upacara-upacara keagamaan penanaman padi. Ia memuliakan Maulid serta semua Nabi yang diturunkan ke bumi.
Selain itu karena non muslim Agama Sunda atau ajaran Madrais ini tidak mewajibkan khitanan. Jenazah orang yang meninggal harus dikuburkan dalam sebuah peti mati.

04. Kejawen (Jawa Tengah dan Jawa Timur)
adalah sebuah kepercayaan yang terutama dianut di pulau Jawa oleh suku Jawa dan suku bangsa lainnya yang menetap di Jawa. Kejawen hakikatnya adalah suatu filsafat di mana keberadaanya ada sejak orang Jawa itu ada. Hal tersebut dapat dilihat dari ajarannya yang universal dan selalu melekat berdampingan dengan agama yang dianut pada zamannya. Kitab-kitab dan naskah kuno Kejawen tidak menegaskan ajarannya sebagai sebuah agama meskipun memiliki laku. Kejawen juga tidak dapat dilepaskan dari agama yang dianut karena filsafat Kejawen dilandaskankan pada ajaran agama yang dianut oleh filsuf Jawa.
Sejak dulu, orang Jawa mengakui keesaan Tuhan sehingga menjadi inti ajaran Kejawen, yaitu mengarahkan insan : Sangkan Paraning Dumadhi (lit. "Dari mana datang dan kembalinya hamba tuhan") dan membentuk insan se-iya se-kata dengan tuhannya : Manunggaling Kawula lan Gusthi (lit. "Bersatunya Hamba dan Tuhan"). Dari kemanunggalan itu, ajaran Kejawen memiliki misi sebagai berikut:
  1. Mamayu Hayuning Pribadhi (sebagai rahmat bagi diri pribadi)
  2. Mamayu Hayuning Kaluwarga (sebagai rahmat bagi keluarga)
  3. Mamayu Hayuning Sasama (sebagai rahmat bagi sesama manusia)
  4. Mamayu Hayuning Bhuwana (sebagai rahmat bagi alam semesta)
berbeda dengan kaum abangan kaum kejawen relatif taat dengan agamanya, dengan menjauhi larangan agamanya dan melaksanakan perintah agamanya namun tetap menjaga jatidirinya sebagai orang pribumi, karena ajaran filsafat kejawen memang mendorong untuk taat terhadap tuhannya. jadi tidak mengherankan jika ada banyak aliran filsafat kejawen menurut agamanya yang dianut seperti : Islam Kejawen, Hindu Kejawen, Kristen Kejawen, Budha Kejawen, Kejawen Kapitayan (Kepercayaan) dengan tetap melaksanakan adat dan budayanya yang tidak bertentangan dengan agamanya.

Etimologi


Seorang petapa Jawa sedang bersamadhi di bawah pohon beringindi era Hindia Belanda 1916.
Kata “Kejawen” berasal dari kata "Jawa", yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah "segala sesuatu yang berhubungan dengan adat dan kepercayaan Jawa (Kejawaan)". Penamaan "kejawen" bersifat umum, biasanya karena bahasa pengantar ibadahnya menggunakan bahasa Jawa. Dalam konteks umum, Kejawen sebagai filsafat yang memiliki ajaran-ajaran tertentu terutama dalam membangun Tata Krama (aturan berkehidupan yang mulia), Kejawen sebagai agama itu dikembangkan oleh pemeluk Agama Kapitayan jadi sangat tidak arif jika mengatasnamakan Kejawen sebagai agama di mana semua agama yang dianut oleh orang jawa memiliki sifat-sifat kejawaan yang kental.
Kejawen dalam opini umum berisikan tentang seni, budaya, tradisi, ritual, sikap serta filosofi orang-orang Jawa. Kejawen juga memiliki arti spiritualistis atau spiritualistis suku Jawa, laku olah sepiritualis kejawen yang utama adalah Pasa (Berpuasa) danTapa (Bertapa).
Penganut ajaran kejawen biasanya tidak menganggap ajarannya sebagai agama dalam pengertian seperti agama monoteistik, seperti Islam atau Kristen, tetapi lebih melihatnya sebagai seperangkat cara pandang dan nilai-nilai yang dibarengi dengan sejumlah laku (mirip dengan "ibadah"). Ajaran kejawen biasanya tidak terpaku pada aturan yang ketat dan menekankan pada konsep "keseimbangan". Sifat Kejawen yang demikian memiliki kemiripan dengan Konfusianisme (bukan dalam konteks ajarannya). Penganut Kejawen hampir tidak pernah mengadakan kegiatan perluasan ajaran, tetapi melakukan pembinaan secara rutin.
Simbol-simbol "laku" berupa perangkat adat asli Jawa, seperti keris, wayang, pembacaan mantera, penggunaan bunga-bunga tertentu yang memiliki arti simbolik, dan sebagainya. Simbol-simbol itu menampakan kewingitan (wibawa magis) sehingga banyak orang (termasuk penghayat kejawen sendiri) yang dengan mudah memanfaatkan kejawen dengan praktik klenik dan perdukunan yang padahal hal tersebut tidak pernah ada dalam ajaran filsafat kejawen.
Ajaran-ajaran kejawen bervariasi, dan sejumlah aliran dapat mengadopsi ajaran agama pendatang, baik Hindu, Buddha,Islam, maupun Kristen. Gejala sinkretisme ini sendiri dipandang bukan sesuatu yang aneh karena dianggap memperkaya cara pandang terhadap tantangan perubahan zaman.



Parmalim (Sumatera Utara)
07. Kaharingan (Kalimantan)
08. Tonaas Walian (Minahasa, Sulawesi Utara)

[full-width]

'Blue Whale' Permainan Kematian yang membuat Ratusan Remaja Bunuh diri

by 6:43 AM
veronika volkova. ©the Siberian Times
 Polisi Rusia tengah menyelidiki penyebab ratusan remaja di Rusia bunuh diri. Diduga sebuah permainan menyeramkan di media sosial penyebabnya.

Hal ini terungkap setelah dua remaja cantik tewas bersamaan. Keduanya melompat dari lantai 14 sebuah gedung, pekan lalu.


Dilansir dari The Sun, Selasa , permainan diduga bernama Paus Biru itu sepertinya didapat dari kelompok media sosial yang menyeramkan. Mereka diduga memanipulasi para remaja tersebut hingga nekat mengakhiri hidupnya.


Yulia Konstantinova (15) dan Veronika Volkova (16) tewas akhir pekan lalu dari atap apartemen. Dua gadis cantik itu tewas mengenaskan.







Yulia Konstantinova (Picture: East2West)
Dua hari sebelumnya, gadis 14 tahun dari Chita dilaporkan melemparkan dirinya ke arah kereta komuter yang tengah melaju. Dan hari ini, seorang gadis 15 tahun menderita luka parah akibat melompat dari lantai lima di Kota Krasnoyarsk, Siberia.

Di akun media sosialnya, Yulia sempat meninggalkan tulisan 'End' dan diunggahnya sesaat sebelum bunuh diri. Begitu pula dengan Veronika.

Sebelumnya, Veronika secara teratur mengunggah tulisan 'galau'.

"Apakah kalian secara perlahan merasa tidak berguna?" demikian unggahan gadis itu di media sosial.

Dari investigasi kepolisian, dua remaja laki-laki ditangkap. Keduanya diduga melakukan syuting bunuh diri tragis.

Komite Investigasi Rusia juga sudah menggelar penyelidikan atas 'hasutan membunuh' para remaja tersebut.

"Penyidik memeriksa adegan-adegan yang direkam. Syuting dilakukan di rumah remaja di bawah umur, mewawancarai kerabat dan teman-teman korban. Tujuannya untuk memperkuat motivasi bunuh diri itu," tutur pihak komite lewat pernyataan tertulis.

Di Krasnoyarsk, penegak hukum baru membuka tiga kasus pidana hasutan bunuh diri, yang melibatkan siswi lewat grup media sosial. Dalam ketiga kasus itu, semua remaja berhasil diselamatkan.


Blue Whale posted by Yulia Konstantinova (Picture: East2West)



Salah satu direktur sekolah setempat mengatakan kepada polisi bahwa ia telah menerima sebuah panggilan misterius yang mengatakan bahwa ada mahasiswa yang telah bergabung dengan 'grup maut' dan berencana untuk segera bunuh diri.
Polisi telah mengidentifikasi bahwa gadis yang melaporkan tentang ini telah bergabung dengan 'permainan' dalam jaringan media sosial 'Vkontakte', dan telah diberi 'tugas' oleh administrator grup/Admin setempat.

Akan tetapi dia tidak mematuhi perintah yang Admin itu berikan tetapi ada kekhawatiran bahwa orang lain akan melakukannya


Dalam kasus Chita, polisi menegaskan bahwa apa yang disebut permainan bunuh diri 'Blue Whale' dipandang sebagai 'penyebab kematian' yang terjadi.
Seorang gadis  telah membuat rencana untuk membunuh dirinya sendiri dengan remaja lainnya yang telah mati, tetapi dia berubah pikiran pada saat terakhir.
Para Remaja didesak untuk menggunakan pisau atau silet untuk membuat bentuk ikan paus di pergelangan tangan atau kaki mereka, ucap salah satu agen rusia.
Indtruth
Mereka juga mendesak untuk menonton film horor sepanjang hari, dan disuruh untuk selalu bangun pada pukul 4:20, langkah langkah itu dilakukan sampai hari ke-50 dimana mereka harus mengambil kehidupan mereka sendiri atau disebut dengan bunuh diri.
Ada keprihatinan mendalam tahun lalu ketika ada kekhawatiran bahwa dalang jahat bisa berada di balik setidaknya 130 kasus bunuh diri di seluruh Rusia.

Siapakah johann conrad dippel???

by 7:32 PM
          Hasil gambar untuk johann conrad dippel                          Hasil gambar untuk johann conrad dippel

Dippel lahir di Castle Frankenstein dekat Mühltal dan Darmstadt, dan karena itu sekali di sekolahnya addendum Franckensteinensis dan sekali di universitas addendum Franckensteina-Strataemontanus digunakan.

Ia belajar teologi, filsafat dan alkimia di Universitas Giessen, memperoleh gelar master dalam teologi di 1693. Ia menerbitkan banyak karya teologis di bawah nama Christianus demokratis, dan sebagian besar dari mereka masih dipertahankan. Circa 1700 ia beralih ke studi Hermetik dan alkimia sebagai kunci untuk alam. Antara 1700 dan 1702 ia terlibat dalam sengketa pahit dengan Reformed Pengadilan Pengkhotbah Conrad Broeske di Offenbach, dengan siapa ia berbagi harapan millenarian untuk pembaruan yang akan segera datang di dunia Kristen. Ia menuduh Broeske kompromi dan kolusi dengan pihak berwenang setelah Broeske menolak untuk mempublikasikan Dippel "The Pencambukan Kepausan dari Protestan" di press Offenbach.

reputasi Dippel sebagai seorang teolog kontroversial membuatnya mendapatkan kedua pembela dan musuh di seluruh Eropa. Emanuel Swedenborg mungkin kedua pendukung yang paling terkenal dan, kemudian, kritikus gigih: Swedenborg mulai sebagai murid Dippel, tapi akhirnya memecatnya sebagai "yang paling keji setan ... yang mencoba hal-hal yang jahat." Swedenborg menjelaskan bahwa ia pada awalnya terpikat oleh tulisan Dippel emosional dan setuju dengan upaya untuk membubarkan gereja-gereja tradisional untuk iman yang lebih pribadi dan penolakan dari Alkitab sebagai Firman Tuhan yang literal; Namun, ia akhirnya dikritik Dippel sebagai "terikat prinsip, tapi secara umum menentang semua, siapa pun mereka mungkin, prinsip atau keyakinan apapun ... menjadi marah dengan salah satu untuk mendebatnya." Swedenborg pergi sejauh untuk menunjukkan bahwa Dippel hanyalah oportunis pemujaan yang digunakan karisma teologisnya untuk nya keuntungan finansial dan pengaruh sosial sendiri, secara aktif memimpin orang menjauh dari iman tradisional untuk "mengambil semua kecerdasan mereka dari kebenaran dan baik, dan meninggalkan mereka dalam semacam delirium. 

Dippel memimpin kehidupan petualang, sering mendapatkan masalah karena pendapatnya sengketa dan masalah dengan mengelola uang. Dia akhirnya dipenjara karena bid'ah, di mana ia menjalani hukuman tujuh tahun. Dia menciptakan minyak binatang yang dikenal sebagai Minyak Dippel yang seharusnya setara dengan mimpi alkemis 'dari "obat mujarab kehidupan." Pada satu titik, Dippel berusaha untuk membeli Kastil Frankenstein dalam pertukaran untuk susu formula obat mujarab, yang ia mengklaim ia telah baru-baru ini ditemukan; tawaran itu ditolak.

Menurut Stahl, Dippel dan pembuat pigmen Diesbach digunakan kalium karbonat terkontaminasi dengan minyak ini dalam memproduksi pewarna merah. Untuk mengejutkan mereka, mereka memperoleh pigmen biru "Berliner Blau", juga disebut "Preussisch Blau" atau "Prusia biru".

Ada klaim bahwa selama tinggal di Puri Frankenstein, dia berlatih alkimia dan anatomi. Dia diduga bekerja dengan nitrogliserin, yang menyebabkan kehancuran sebuah menara di Puri Frankenstein. Tapi ini tampaknya menjadi mitos modern, untuk itu adalah sebuah anakronisme. Nitrogliserin belum ditemukan dalam waktu Dippel. Dan meskipun sejarah benteng selama hidup Dippel didokumentasikan dengan baik, penghancuran menara - meskipun pasti acara yang luar biasa - mana disebutkan.

 koneksi Dippel untuk Castle Frankenstein memunculkan teori bahwa ia adalah seorang model untuk Mary Shelley novel Frankenstein, meskipun gagasan itu tetap kontroversial. Hipotesis ini mungkin pertama kali diusulkan oleh Radu Florescu dalam bukunya In Search of Frankenstein (1975), yang berspekulasi bahwa Mary Wollstonecraft Godwin mengunjungi benteng selama perjalanannya di Rhine dengan Percy Shelley, di mana mereka mungkin telah mendengar cerita lokal tentang Dippel, yang saat itu akan tumbuh legendaris dan terkenal. Florescu juga mencatat bahwa Shelleys referensi interaksi singkat saat tur pedesaan di sekitar Puri Frankenstein dengan mahasiswa dari Universitas Strasbourg, yang Dippel dulunya mahasiswa; mahasiswa ini bisa memberitahu mereka cerita tentang alumnus terkenal. Selain itu, Shelleys tahu beberapa anggota yang disebut "Kreis der Empfindsamen", sebuah lingkaran sastra yang bertemu di Darmstadt 1769-1773; Puri Frankenstein sering digunakan sebagai lokasi untuk pembacaan publik mereka, sehingga memungkinkan bahwa legenda Dippel bisa muncul selama percakapan antara orang-orang dalam lingkaran dan Shelleys. 
 Hasil gambar untuk johann conrad dippel

Seorang sejarawan lokal, Walter Scheele, percaya bahwa legenda mengatakan di desa-desa sekitar kastil yang dikirimkan oleh Jacob Grimm untuk Mary Jane Clairmont, penerjemah dari dongeng Grimm dan ibu tiri dari Mary Wollstonecraft Godwin. Scheele juga mengklaim bahwa, pada tahun 1814, Mary, dia setengah-adik Claire Clairmont, dan Percy Bysshe Shelley dikatakan telah mengunjungi Kastil Frankenstein, dalam perjalanan mereka ke Danau Jenewa. sejarawan lain, apakah bidang mereka penelitian adalah Grimm, Shelley, atau Kastil Frankenstein, tidak melihat bukti untuk ini. Surat diklaim Scheele dari Grimm adalah tempat yang akan ditemukan. Dan tidak ada bukti dapat ditemukan bahwa Clairmont dianggap sebagai penerjemah bagi Grimm Fairy Tales. 

Terlepas dari validitas sejarah sambungan, namun, status Dippel sebagai prototipe Frankenstein tampaknya meyakinkan dalam budaya populer saat ini (mirip dengan Count pertukaran sama kontroversial Dracula dengan Vlad the Impaler sejarah .Selain karya spekulatif Florescu ini, penggabungan Dippel / Frankenstein telah muncul dalam beberapa karya fiksi: Robert Anton Wilson novel fantasi The Earth Akan Goyang fitur Dippel sebagai rakasa keputusan, dunia-hopping penyihir yang menyebut dirinya Frankenstein;  yang fiksi ilmiah Novel Frankenstein Pembunuhan menggambarkan Dippel sebagai asisten Victor Frankenstein; [1opps 'tiga bagian buku komik miniseri The Frankenstein-Dracula Perang diskon Dippel sebagai salah satu inspirasi utama Dr. Frankenstein;  Warren Ellis novel grafis Frankenstein rahim hipotesis bahwa Shelley memang mengunjungi Kastil Frankenstein dan mendengar Dippel sebelum menulis karya yang terkenal;[18fitur Christopher Farnsworth ini Sumpah debutnya Novel Darah vampir mencoba untuk menghentikan Dippel abadi (yang pernah bekerja untuk Adolf Hitler) dari menciptakan Frankenstein- seperti tentara;  RUPS Novel Altman Dippel Oil memiliki Dippel yang baik hati yang tinggal di zaman modern, bingung pada pengaruhnya pada mitos Frankenstein; Larry Correia novel Rakasa Hunter Vendetta membuat referensi ke Dippel sebagai pencipta karakter misterius, 'Agen Frank' Kenneth Oppel ini 2.011 Novel Endeavor ini gelap: The Pemagangan Victor Frankenstein mencakup beberapa homages pengaruh Shelley, termasuk penamaan Victor Frankenstein saudara kembar Konrad, setelah sang alkemis;  Stan Major novel RIMMs dari Khaos fitur Dippel sebagai kriminal abadi dalang, dipaksa untuk membuat monster Frankensteinian untuk vampir induk membungkuk pada dominasi dunia. 
      Hasil gambar untuk johann conrad dippel                Hasil gambar untuk johann conrad dippel

Beberapa buku nonfiksi tentang kehidupan Mary Shelley juga mengkonfirmasi Dippel sebagai pengaruh mungkin.Secara khusus, Miranda Seymour menemukannya penasaran bahwa Maria berbicara tentang "dewa [membuat seluruhnya] pria baru" dalam jurnalnya begitu cepat setelah perjalanannya melalui daerah sekitarnya Puri Frankenstein;  jika rumor memang ada di seluruh daerah yang Dippel bereksperimen pada mayat dalam upaya untuk menciptakan kehidupan, Seymour berpendapat, ungkapan Maria bisa lebih dari sekadar kebetulan. Untuk saat ini, bagaimanapun, sambungan tetap menjadi subyek perdebatan.


© Copyright Indtruth 2015. Powered by Blogger.